Loading...

Selasa, 25 Oktober 2011

HADIS PADA MASA RASUL S.A.W DAN SAHABAT

HADIS PADA MASA RASUL S.A.W DAN SAHABAT
Ummi Kalsum Khairani : 10 PEDI 1817
Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Sumatera Utara 2010/2011

A.      Pendahuluan
Periode pertama sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadis terjadi pada masa Rasul s.a.w. Para sahabat hidup bersama Rasul s.a.w, mereka dapat berinteraksi secara langsung, baik melihat, mendengar ataupun menyaksikan segala gerak-gerik yang dilakukan, diucapkan, bahkan taqrirnya Rasul s.a.w.
Keberadaan sahabat memiliki peranan penting dalam proses yang berkesinambungan, mereka seperti jembatan menuju perubahan dan peradaban. Mereka adalah generasi pertama yang mengukir sejarah yang telah berjalan ribuan tahun dan mereka adalah lulusan terbaik dari madrasah yang diasuh Rasul s.a.w.
Dalam menerima, menyampaikan, memelihara, sampai menyebarkan Alquran dan hadis. Para sahabat menggunakan kehati-hatian di tingkat level tertinggi, mereka adalah orang yang sungguh-sungguh menjaga kemurnian Alquran dan mempersempit gerak orang-orang yang ingin membuat kepalsuan. Para sahabat memiliki dasar pijakan dalam mengambil keputusan terutama dalam masalah menuliskan hadis, walaupun secara pribadi mereka memiliki catatan sendiri terhadap hadis-hadis yang mereka terima dari Rasul s.a.w.
Muhammad s.a.w sebagai panutan umat, beliau adalah seorang suami, ayah, , guru, hakim, panglima perang, kepala negara, pemimpin umat,  dan Rasul s.a.w. Karenanya para sahabat menjadikan beliau menjadi sasaran penting sebagai sosok pribadi yang dijadikan teladan dalam kehidupan.
Secara garis besar pembahasan dalam makalah ini adalah membicarakan tentang hadis pada masa Rasul s.a.w, yang dimulai dengan cara Rasul s.a.w menyampaikan hadis, cara sahabat menerima hadis, dan cara sahabat menyampaikan hadis pada sahabat lain. Kemudian pemakalah membahas adanya larangan dan perintah membolehkan penulisan hadis, apa saja faktor yang menjaga kesinambungan hadis, bagaimana cara sahabat memelihara hadis, bagaimana cara penulisan hadis, dan pembahasan akan ditutup dengan materi penulisan hadis pada masa sahabat.  Semua topik pembahasan akan dijelaskan pada bab selanjutnya.
B.       Hadis pada Masa Rasul s.a.w dan Sahabat
Nabi Muhammad s.a.w, adalah pribadi yang uswatun hasanah, seorang manusia  yang diberi tugas mulia sebagai pembawa risalah yang kehadirannya menjadi rahmat bagi alam, Dalam catatan sejarah, Rasul s.a.w mendapat gelar al-Amin disebabkan pribadinya yang selalu amanah dan dapat dipercaya, dalam hidupnya Rasul s.a.w dikenal baik karena melakukan kebaikan dan menyebarkan kebaikan sehingga menjadi pengikat di hati para sahabat dan umatnya. Beliau adalah referensi akhlak yang harus diteladani, dalam berbicara, melakukan tindakan, dan taqrirnya, selalu ada pelajaran yang mengandung makna dan tidak akan pernah membuat umat  berhenti mengagumi kepribadiannya.
Rasul s.a.w tidak pernah mengeluh atas amanah yang menjadi tanggung-jawabnya, beliau adalah seorang suami, ayah, hakim, panglima perang, pemimpin negara, dan Rasul. Perannya sebagai Rasul penyampai risalah, bukan hanya membuatnya mendapatkan predikat guru sunnah terbaik, bahkan ia mampu membimbing para sahabatnya menjadi pribadi unggul dengan mengukir sejarah dalam perjalanan panjang pengaruh Islam di seluruh penjuru dunia.
Rasul s.a.w adalah guru sunnah terbaik, sang motivator, dan penabur hikmah. Beliau mencari cara agar pembelajaran tidak membosankan dengan tujuan agar para sahabat selalu tertarik untuk datang ke majlis pengajian. Sejumlah penulis ‘ulum al-hadis mencatat paling tidak ada tujuh metode yang dipakai Rasul s.a.w dalam mengajarkan ilmu (Sunnah) yaitu tadarruj (gradual), markaz at-ta’lim (memiliki pusat kegiatan belajar), husn at-tarbiyah wa ta’lim (metode pendidikan dan pengajaran yang baik), tanwi’ wa taghyir (membagi dan memilah masalah), tathbiq al-‘amali (aplikasi langsung), mura’ah al-mustawiyat al-mukhtalifah (berdasarkan tingkat perbedaan kecerdasan), taisir wa’adam at-tasydid (mempermudah dan melenyapkan kesukaran), dan ta’lim al-nisa’ (mengajari kaum wanita). [1] Terdapat hadis yang berkenaan dengan cara Rasul s.a.w menyesuaikan suasana pengajian dengan keadaannya, sebagai berikut :







“ Diriwayatkan dari Syaqiq Abu Wa’il : Abdullah (bin Mas’ud r.a) biasa memberikan pengajaran kepada kami setiap hari Kamis. Lalu ada seseorang berkata kepadanya, ‘ Wahai Aba Abdirrahman, kami senang sekali mendengarkan pengajaran engkau, dan kami sangat berharap engkau sudi memberikan pengajaran kepada kami setiap hari. ‘ Lalu Abdullah berkata, ‘ Tidak ada yang menghalangiku untuk memberikan pengajaran (setiap hari) kepadamu, hanya saja aku cemas kalau kamu merasa bosan. Sesuangguhnya Rasulullah s.a.w mengamat-amati waktu untuk memberikan pengajaran kepada kami agar kami tidak merasa jemu. “ [2] (HR. Muslim)

Hadis di atas memberikan penjelasan tentang kehati-hatian Rasul s.a.w dalam memberikan pembelajaran kepada para sahabat, beliau menyesuaikan kondisi mereka yang akan mendengarkan pengetahuan pada Rasul s.a.w dengan suasana pengajian. Usahanya untuk tidak kaku dalam mengajar bertujuan agar para sahabat tidak tidak dihinggapi rasa bosan, disadari ataupun tidak rasa bosan akan mempengaruhi langkah seseorang untuk hadir kembali pada majlis pengajian Rasulullah, apalagi jika kebosanan terjadi dalam proses transfer pengetahuan, maka sudah jelas hasil pembelajaran tidak akan memuaskan.
Periode Rasul s.a.w merupakan periode pertama sejarah pertumbuhaan dan perkembangan hadis. Masa ini berlangsung selama 23 tahun, mulai tahun 13 SH/610 M sampai 11 H/632 M. Masa ini merupakan kurun waktu turun wahyu dan sekaligus sebagai masa pertumbuhan hadis. [3]
Untuk itu sebelum membahas tentang cara-cara sahabat menerima hadis, ada baiknya pemakalah menguraikan penjelasan tentang cara-cara Rasul s.a.w memberikan pembelajaran (hadis) .
1.        Cara Rasul s.a.w Menyampaikan Hadis.
Ada tujuh cara Rasul s.a.w dalam menyampaikan hadis, yaitu :
a.             Tadarruj
          Tadarruj [4] adalah suatu cara penyampaian Rasul s.a.w dalam memberikan pembelajaran hadis memakai metode yang sama dengan pembelajaran Alquran yaitu  dengan  cara  bertahap, tahapan ini berpengaruh besar terhadap pengamalan
ajaran Islam di dalam masyarakat.
b.             Markaz at-ta’lim :
Rasul s.a.w  memiliki pusat-pusat pembelajaran, seperti Dar al-Arqam bin Abdi Manaf di Makkah [5] yang digunakan sebagai markas dakwah Islam pada masa awal kenabian. Selanjutnya Rasul s.a.w menjadikan rumahnya menjadi pusat kegiatan, kemudian berkembang ke masjid-masjid. Bahkan tidak terbatas pada tempat tertentu, Rasul s.a.w bersedia menyampaikan pembelajaran di mana saja dan kapan saja dengan catatan tetap menyesuaikan kondisi pendengar dengan situasi pada saat itu, jika memungkinkan untuk dilakukan, maka Rasul s.a.w tidak akan membuang kesempatan yang ada.
c.              Husn at-tarbiyah wa ta’lim
Kebaikan pendidikan dan pengajaran yang diberikan Rasul s.a.w memberikan ketenangan tersendiri bagi para sahabat. Saat mengajar Rasul s.a.w adalah pribadi guru yang lembut dalam perkataan dan sopan dalam penyampaian, perhatian serta penuh kasih sayang, memiliki kedalaman ilmu, dan selalu siap mengulang penjelasan bagi sahabat yang belum faham.
d.             Tanwi’ wa taghyir
Rasul s.a.w memberikan pengajaran dengan cara memilah dan membagi masalah yang dajarkan agar sahabat mudah memahami dan tidak jemu. Demikian juga beliau merubah pola-pola penyampaian dan pengajaran dengan variatif. [6]
e.              Tathbiq al-‘amali
Rasul s.a.w tidak hanya memberikan penjelasan kepada sahabatnya tetapi juga  dalam  berbagai  kesempatan  ia  melakukan  praktek  langsung terhadap apa
yang disampaikannya.[7]
f.              Mura’ah al-mustawiyat al-mukhtalifah
Dalam melakukan pengajaran Rasul s.a.w selalu mempertimbangkan kondisi objektif, psikologis, dan kecerdasan orang yang bertanya kepadanya. [8] Hal ini terlihat jelas ketika Rasul s.a.w ditanya tentang permasalahan yang sama, maka beliau menjawab persoalannya dengan jawaban yang tidak sama.
g.             Taisir wa’adam at-tasydid
Untuk menyebarkan  dan menyampaikan Islam, Rasul s.a.w menempuh jalan tegas, tetapi tetap memiih yang termudah dan terlonggar. Dalam mengajarkan hukum-hukum agama kepada kaum muslimin, begitu menggunakan metode paling mudah dan paling cepat diterima masyarakat.[9] Rasul s.a.w dalam hal ini bersabda:


“ Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a :  Nabi Muhammad s.a.w pernah bersabda “ Ringankanlah orang-orang (dalam masalah-masalah agama), dan janganlah membuatnya menjadi sukar bagi mereka, dan berilah mereka kabar gembira dan jangan membuat mereka melarikan diri (dari Islam).” (HR. Bukhari) [10]

h.             Ta’lim al-nisa’
Rasul s.a.w bersabda :




“ Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri r.a : Beberapa orang perempuan memohon kepada Nabi Muhammad s.a.w untuk memberi mereka waktu secara terpisah selama sehari sebab kaum pria telah mengambil seluruh waktunya. Mendengar permintaan itu Nabi Muhammad s.a.w menjadikan kepada mereka satu hari untuk memberikan pelajaran dan perintah-perintah agama… “ (HR. Bukhari) [11]
Hadis  di atas   menerangkan bahwa Rasul s.a.w  bukan saja memperhatikan
pendidikan untuk kaum pria saja, beliau bahkan menyediakan waaktu belajar khusus buat kaum wanita. Demikianlah cara-cara yang ditempuh Rasul s.a.w untuk menyampaikan pembelajaran, dan cara-cara ini membuktikan bahwa beliau
adalah guru terbaik di dunia.
M. Syuhudi Ismail menuliskan Nabi Muhammad s.a.w hidup di tengah-tengah masyarakat. Komunikasinya dengan masyarakat terjadi tidak hanya satu arah saja, tetapi juga dua arah secara timbal balik. Tidak jarang, Nabi Muhammad menerima pertanyaan dari sahabatnya, dan dalam kesempatan lain beliau memberi komentar peristiwa yang sedang terjadi. Karena itu hadis Nabi s.a.w ada yang didahului oleh sebab dan ada juga yang tanpa sebab. [12]
2.        Cara Sahabat Menerima Hadis pada Masa Rasul
Para sahabat hidup bersama Rasul s.a.w, mereka berinteraksi dengan Rasul s.a.w setiap harinya, di berbagai waktu dan tempat. Walaupun tidak semua sahabat dapat bersama-sama berinteraksi secara rutinitas dengan Rasul s.a.w, dan ketidak-hadiran mereka disebabkan beberapa hal, diantaranya karena kesibukan akan tugas sehari-hari, karena tempat tinggalnya yang jauh, dan karena rasa malu jika bertanya secara langsung kepada Rasul s.a.w.
T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy menyatakan bahwa seluruh perbuatan Nabi, demikian juga seluruh ucapan dan tutur kata beliau menjadi sasaran perhatian para sahabat. Segala gerak gerik beliau mereka jadikan sebagai pedoman hidup.[13]
Berdasarkan kondisi para sahabat yang beragam, M. Ajaj Al-Khatib menuliskan empat cara sahabat memperoleh sunnah dari Rasul s.a.w yaitu sebagai berikut :
a.    Majlis – majlis Rasul
b.    Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada diri Rasul
c.    Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kaum muslimin
d.   Berbagai peristiwa dan kejadian yang disaksikan oleh sahabat,
bagaimana Rasul s.a.w melaksanakannya. [14]
Dari keempat cara tersebut, secara mendalam  dapat dibagi lagi kepada dua cara, yaitu :
a.         Secara Langsung dan
b.        Secara Tidak Langsung[15]
Adapun  maksud  secara  langsung  adalah para sahabat melihat, mendengar,
dan menyaksikan secara langsung apa yang dilakukan oleh Rasulullah, baik saat mengikuti pengajian, atau dalam keadaan lain, di mana para sahabat berada bersama Rasul pada saat itu.      
Secara langsung dapat bertempat di majlis-majlis Rasul s.a.w. Di majlis-majlis ini para sahabat bukan saja melihat dan mendengar Rasul s.a.w menyampaikan hadis, tapi lebih dalam daripada itu, mereka memahami dengan jelas apa yang telah disampaikan oleh Rasul s.a.w. Di dalam pertemuan itu, para sahabat dapat bertanya dan mendapatkan jawaban perihal masalah pribadi, masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan kaum muslimin, masalah praktek keagamaan dan masalah – masalah lainnya.
Pengertian secara tidak langsung adalah para sahabat tidak langsung menerima hadis dari Rasul s.a.w, hal ini disebabkan karena kesibukan yang menghalangi atau karena jarak yang ditempuh untuk mengikuti pengajian Rasul s.a.w cukup jauh. Karena itu para sahabat yang hadir biasanya memberitahukan kepada mereka yang tidak hadir apa yang mereka dapat saat mengikuti majlis Rasul s.a.w, atau sebaliknya, dan juga ada sahabat disebabkan rasa malu untuk bertanya masalah pribadinya, ia menitipkan pertanyaan kepada sahabat lainnya untuk ditanyakan kepada Rasul s.a.w, atau Rasul s.a.w sendiri meminta istrinya untuk menjelaskan masalah-masalah yang berhubungan dengan kewanitaan
Berikut ini beberapa hadis Rasul mengenai pembahasan cara sahabat menerima hadis dari Rasul s.a.w :
1)   Hadis yang diriwayatkan dari Abu Bakrah :


“ Diriwayatkan oleh Abu Bakrah : … Adalah tugas yang hadir hari ini untuk memberitahukannya kepada orang-orang yang tidak hadir (hari ini) sebab mereka yang tidak hadir barangkali lebih baik pemahamannya daripada mereka yang tidak hadir hari ini. “ (HR. Bukhari) [16]

2)   Hadis yang diriwayatkan dari Ali r.a :


“ Diriwayatkan dari Ali r.a : Aku sering keluar madzdza’ (cairan yang keluar dari kemaluan bukan karena melakukan hubungan seksual) maka aku meminta Miqdad untuk menanyakannya dan Nabi s.a.w  menjawab. ‘Cukuplah berwudhu ‘.[17]

3)   T.M. Hasbi Ash Shiddieqy menuliskan Umar Ibn Khaththab, menurut
Riwayat al-Bukhary menerangkan :




“ Aku dan seorang temanku (tetanggaku) dari golongan Anshar bertempat di kampung Umayyah Ibn Yazid, sebuah kampung yang juh dari kota Madinah. Kami berganti-ganti datang kepada Rasul. Kalau hari ini aku yang turun, aku beritakan kepada tetanggaku apa yang aku dapati dari Rasulullah. Kalau dia yang pergi demikian juga. … “ [18]

c.         Cara sahabat menyampaikan hadis.
Setelah mereka menerima hadis dari Rasul s.a.w, para sahabatpun menyampaikan hadis kepada sahabat lain yang tidak hadir. Ada perbedaan lafaz saat sahabat menyampaikan ayat-ayat Alquran dan saat menyampaikan hadis dari Rasul s.a.w, M. Noor Sulaiman menjelaskan jika berkenaan dengan wahyu, maka sahabat menyampaikannya secara lafdzi (harfiah) sebagaimana yang mereka terima dari Rasul s.a.w. [19]  Dan jaminan  kesucian dan kemurnian Alquran sendiri
terdapat dalam surah Al-Hijr (15) ayat 9, yaitu :

“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. “ [20]
Sedangkan penyampaian hadis, dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1)        Dengan lafaz asli atau disebut juga lafzhiyyah,
Maksudnya  adalah  mereka  melafazkan  sesuai  dengan lafaz  yang mereka
terima dari Rasul. Sahabat yang melakukan cara ini karena kuat daya ingat dan daya hafalnya, di samping itu saat Rasulullah menyampaikan hadis yang khusus dalam kajian ini adalah hadis qauli.
2)        Dengan makna (ma’nawi)
Maksudnya para sahabat menyampaikan hadis yang diisinya berdasarkan apa yang disampaikan Rasul s.a.w tetapi redaksinya disusun sendiri oleh mereka.
3.        Penulisan Hadis pada Masa Rasul s.a.w : Larangan dan Perintah                       ( Membolehkan ) Menuliskan Hadis.
Pembahasan ini cukup menarik untuk dibahas, karena dalam sejarah penulisan hadis di masa Rasul s.a.w, beliau bukan saja pernah melarang para sahabat untuk menulis hadis, akan tetapi juga pernah menyuruh untuk menuliskan hadis beliau.
M. Syuhudi Ismail menyatakan bahwa kebijaksanaan Nabi  tersebut telah menimbulkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama, bahkan di kalangan sahabat Nabi, tentang boleh atau tidak bolehnya penulisan hadis. [21]
a.         Larangan menuliskan Hadis
Rasul s.a.w pernah melarang para sahabat untuk menuliskan hadis, beliau bersabda :





“ Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri : Rasulullah s.a.w bersabda, ‘ Janganlah kalian mencatat Sunnahku. Barang siapa mencatat selain Alquran, hendaklah ia menghapusnya. Dan ceritakan saja tentangku, tidak ada dosa atasnya. Barang siapa berbuat bohong mengatasnamakanku dengan sengaja (padahal aku tidak mengatakannya), hendaklah ia bersiap-siap untuk menempati tempat duduknya dari apa neraka. “ (HR. Muslim) [22]

b.        Perintah menuliskan Hadis
Rasul s.a.w memerintahkan penulisan hadis melalui sabdanya :


“ Dari Rafi’ Ibn Khudaij bahwa ia menceritakan, kami bertanya kepada    ‘ Ya Rasulullah, sesungguhnya kami mendengar dari engkau banyak hadis, apakah boleh kami menuliskannya ?’ Rasulullah menjawab, ‘ Tuliskanah
oleh kamu untukku dan tidak ada kesulitan. “ (HR. Khatib) [23]

Kemudian hadis ‘Abd Allah ibn ‘Amr :


“ Dari ‘Abd Allah ibn ‘Amr, aku berkata, ‘(Bolehkah) aku menuliskan apa yang aku dengar dari engkau ?’ Rasulullah s.a.w menjawab, ‘Boleh’ Aku berkata selanjutnya, ‘ Dalam keadaan marah dan senang ? Rasul s.a.w menjawab lagi, ‘ Ya, sesungguhnya aku tidak mengatkan sesuatu kecuali yang haq (kebenaran). “ (HR. Ahmad) [24]

Sikap ulama dalam menghadapi permasalahan dalam menuliskan hadis-hadis, menurut Ajjaj al-Khatib ada empat pendapat dalam rangka mengkompromikan dua kelompok hadis yang bertentangan sebagai berikut:
1)      Menurut Imam Bukhari, hadis Abu Sa’id al- Khudri di atas adalah mawquf [25], dan karenanya tidak dapat dijadikan dalil. Tetapi, pendapat ini ditolak, sebab menurut Imam Muslim hadis tersebut adalah sahih.

2)      Larangan menuliskan hadis terjadi pada masa awal Islam yang ketika itu dikhawatirkan terjadinya pencampuradukan antara hadis dengan Alquran. Tetapi, setelah umat Islam bertambah banyak dan mereka telah dapat membedakan antara hadis dan Alquran, maka hilanglah kekhawatiran itu dan, karenanya mereka diperkenankan untuk menuliskannya.

3)      Larangan tersebut ditujukan terhadap mereka yang memiliki hafalan yang kuat sehingga mereka tidak terbebani dengan tulisan; sedangkan kebolehannya diberikan kepada mereka yang hafalannya kurang baik seperti Abu Syah.

4)      Larangan tersebut bersifat umum, sedangkan kebolehan menulis diberikan khusus kepada mereka yang pandai membaca dan menulis sehingga tidak terjadi kesalahan dalam menuliskannya, seperti ‘Abd Allah ibn ‘Amr yang sangat dipercaya oleh Nabi s.a.w.

Pendapat ‘Ajjaj al-Khatib dalam menghadapi perbedaan di atas yaitu menurutnya pendapat pertama dapat diterima bahwa hadis Abu Sa’id al-Khudri adalah sahih dan dapat dijadikan hukum, sedangkan tiga pendapat berikutnya, ‘Ajjaj al-Khatib mengatakan bahwa larangan menuliskan hadis dan Alquran pada lembaran yang sama adalah logis dan dapat diterima, karena kekhawatiran terjadi percampur-adukan antara hadis dan Alquran, begitu juga penulisannya di awal Islam dengan maksud agar umat lebih fokus terhadap Alquran. Namun, terkhusus bagi mereka yang sudah dapat membedakan antara Alquran dan hadis, serta bagi mereka yang tidak kuat ingatnnya diperbolehkan untuk menuliskannya. Dan pada perkembangan selanjutnya saat umat Islam sudah bisa menghafal dan  memelihara Alquran dan mampu membedakan antara Alquran dan hadis, maka larangan menuliskan hadispun berakhir. [26]

Abdul Majid Khon menambahkan penulisan hadis secara pribadi tidak untuk umum berfungsi untuk membantu hapalan mereka karena intinya dihafal, setelah mereka hafal hadis-hadis yang mereka catat, kemudian catatan itu dibakar seperti yang dilakukan oleh beberapa sahabat. [27]
4.        Faktor-Faktor yang Menjamin Kesinambungan Hadis
Nawir Yuslem menyatakan ada empat faktor yang menjamin kesinambung-an hadis, Yaitu :
a.    Quwwat al-dzakirah, yaitu kuatnya hafalan para saabat yang menerima dan mendengarkan langsung hadis-hadis dari Nabi s.a.w, dan ketika mereka meriwayatkan hadis-hadis tersebut kepada sahabat atau generasi berikutnya, serupa seperti yang mereka hafal dari Nabi.

b.    Kehati-hatian para sahabat dalam meriwayatkan hadis dari Rasulullah s.a.w, karena dikhawatirkan terdapat kesalahan atau tercampur sesuatu yang bukan hadis.

c.    Kehati-hatian mereka dalam menerima hadis, mereka tidak tergesa-gesa dalam menerima hadis dari seseorang, kecuali jika bersama perawi itu ada orang lain yang ikut mendengarkannya dari Nabi s.a.w, atau dari perawi lain.

d.   Pemahaman terhadap ayat
Mushthafa al-Siba’i berpendapat, bahwa yang dijamin terpelihara dari usaha pengubahan (pemutarbalikan) adalah Al-Dzikr (Al-quran), selain dari al-quran juga meliputi hadis. [28]

5.        Pemeliharaan Hadis pada Masa Sahabat
Menurut Ramli Abdul Wahid, ada dua poin penting tentang metode sahabat memelihara kemurnian sunnah Rasul s.a.w, sebagai berikut :
a.    Taqil ar-Riwayah  [29]
Dalam Taqil ar-Riwayah dimaksudkan adanya upaya untuk meminimalisasi periwayatan hadis.  Upaya ini memiliki alasan tersendiri, yaitu :
1)   Di masa pemerintahan Abu Bakar perhatian tertuju khusus pada pemecahan masalah politik, sehingga gerakan periwayatan hadis terbatas.
2)   Era sahabat masih dekat dengan era Rasul s.a.w, dan secara umum para
sahabat masih mengetahui sunnah Rasul.
3)   Para sahabat lebih memfokuskan diri pada kegiatan penulisan dan kodifikasi Alquran. [30]
4)   Adanya kebijaksanaan yang dilakukan penguasa, khususnya ‘Umar, agar menyedikitkan riwayat.[31]
5)   Kekhawatiran para sahabat akan munculnya hadis palsu. Karena itu, ‘Umar memberi syarat bahwa hadis yang diterima adalah hadis yang harus dibuktikan dengan saksi dan dikuatkan dengan sumpah.
6)      Kehatian-hatian para sahabat disebabkan rasa takut akan dosa karena khawatir mereka salah dalam meriwayatkan sunnah.
b.    Man’u ar-Ruwat min at-Tahdits bima Ya’lu ‘ala Fahm al-‘Ammah. [32]
Metode kedua ini merupakan gerakan pelarangan riwayat karena dikhawatirkan terjadinya kesalahpahaman terhadap riwayat tertentu [33]. Pelarangan ini sendiri dipahami bukanlah sebagai perbuatan negatif untuk menyembunyikan ilmu, melainkan untuk menutupi pintu keburukan yang besar. Sebab, masyarakat umum tidak memiliki tingkat kecerdasan yang sama. [34]
6.        Penyebar-luasan Periwayatan Hadis
Ketika terjadi perluasan daerah Islam khususnya pada masa kekhalifahan Utsman ibn ‘affan,  para sahabat mendirikan masjid-masjid didaerah-daerah baru seperti jazirah Arabiya, wilayah Syam (Paestina, Yordania, Siria dan Libanon), seluruh kawasan Irak, Mesir, Persia dan kawasan Samarkand;[35] para sahabat menyebarkan ajaran Islam dengan mengajarkan Al-quran dan hadis Nabi s.a.w kepada penduduk setempat, para sahabat pada masa ini mulai mengeluarkan khazanah dan koleksi hadis yang selama ini mereka miliki, mereka saling mentransfer hadis sehingga terjadilah peningktan kuantitas periwayatan hadis. Berikutnya pemakalah akan menguraikan tentang beberapa kota yang banyak terdapat para sahabat dan  aktivitas periwayatan hadis:
a.         Madinah
Di kota Madinah ini terdapat para sahabat yang mempunyai ilmu yang luas dan mendalam tentang hadis, diantaranya Khulafa’ al-Rasyidin yang empat, Aisyah r.a, Abd Allah ibn Umar, Abu Sa’id al-Khudri, Zaid ibn Tsabit dan lainnya. Dikota ini pula lahir beberapa nama besar dari kalangan tabi’in seperti Sa’id ibn Musayyab, urwah ibn Zubair dan lainnya.
b.        Mekah
Setelah Mekah ditaklukkan, Mu’adz ibn Jabal ditunjuk sebagai guru yang mengajarkan ajaran Islam dan hadis pada penduduk setempat, peranan kota Mekah dalam hal penyebarluasan hadis sangat signifikan, terutama pada musim haji, karena para sahabat saling bertemu dan juga dengan para tabi’in, mereka saling bertukar hadis yang mereka miliki yang selanjutnya mereka bawa pulang kedaerah masing-masing. Di kota Mekah ini muncul para ulama hadis seperti Mujahid, Atha’ ibn Rabah, Thawus ibn Kisan, Ikrimah maula ibn Abbas, dan lainnya.
c.         Kufah
Di Kuffah terdapat sejumlah besar sahabat yang mempunyai peranan yang penting dalam penyebaran ajaran Islam, termasuk hadis, diantaranya Ali ibn Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqas, Abd Allah ibn Mas’ud, dan lainnya.
d.        Basrah
Di kota Basraah ini terdapat sejumlah sahabat, seperti anas ibn Malik, Abu Musa al-Asy’ari, dan lainya, dan dari mereka inilah muncul tokoh-tokoh terkenal dari kalangan tabi’in, diantaranya  Al-hasan al-Bashri dan Muhammad ibn Sirin.
Utang Ranuwijaya menambahkan sahabat yang membina hadis di Syam antara lain Abu Ubaidah al-Jarh, Bilal bin Rabbah, dan lain-lain. Sahabat yang membina di Mesir di antaranya Amr bin al-‘Ash, Uqbah bin Amir, dan sahabat lainnya.  Sahabat yang membina di Maghrib dan Andalus, antara lain adalah  Mas’ud bin al-Aswad al-Balwi,  dan lain-lain. Sahabat yang membina hadis di Yaman di antaranya adalah  Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa al-‘Asy’ari, dan sahabat yang membina di Khurasan adalah Buraidah bin Husain al-Aslami, dan sahabat lainnya.[36]
7.        Penulisan Hadis di Masa Sahabat
Periode kedua perkembangan hadis adalah pada masa sahabat khususnya khulafa’ ar-rasyidin. Masa ini terhitung sejak tahun 11 H sampai 40 H, yang disebut dengan masa sahabat besar. [37]
Pada masa khulafa’ ar-rasyidin, perhatian sahabat tertuju hanya pada pemeliharaan dan penyebaran Alquran, karena itu periwayatan hadis bukan saja tidak berkembang akan tetapi dibatasi, dan diperketat periwayatannya.
Walaupun ada hadis yang membolehkan untuk menulis hadis. Para sahabat seperti enggan untuk melakukannya dengan alasan untuk memelihara Alquran. Dalam catatan sejarah, Abu Bakar adalah seorang sahabat yang berpendirian tidak menuliskan hadis, walaupun ia mengumpulkan sebanyak 500 hadis dari Rasul s.a.w, dan ia lebih memilih untuk membakarnya.[38]
Umar bin Khathtab memiliki keinginan untuk membukukan sunnah, kemudian ia meminta fatwa dari sahabat lain dan ketika ia sudah mendapat izin untuk menuliskannya, Umar melakukan shalat istikharah selama sebulan. Hasilnya adalah Umar mengurungkan niatnya untuk membukukan sunnah disebabkan kekhawatirannya terhadap umat yang akan berpaling untuk mempelajari sesuatu dan menyenyampingkan Alquran. [39] Dan karena kehati-hatian para sahabat dalam menerima hadis, Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khathtab tidak menerima hadis jika tidak disaksikan kebenarannya oleh seseorang yang lain, dan ‘Ali bin  Abi Thalib tidak menerima hadis sebelum yag meriwayatkan itu disumpah. [40]  Atas dasar inilah, pada masa khulafa Ar-Rasyidin ini disebut sebagai masa pembatasan periwayatan (taqlil ar-riwayah). [41]
Pemakalah membuat kesimpulan dengan melihat hadis yang dibakar oleh Abu Bakar r.a atau syarat penerimaan hadis dari Umar r.a dan Ali r.a, pada dasarnya para sahabat memiliki catatan-catatan hadis,  namun catatan itu hanya untuk catatan pribadi dan bukan untuk disebarluaskan.
Abdul Majid Khon menuliskan enam orang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis, yaitu :
a.         Abu Hurairah sebanyak 5.374 buah hadis
b.        Abdullah bin Umar bin al-Khaththab sebanyak 2.635 buah hadis.
c.         Anas bin Malik sebanyak 2.286 buah hadis
d.        Aisyah Ummi al-Mukmini sebanyak 2.210 buah hadis.
e.         Abdullah bin Abbas sebanyak 1.660 buah hadis dan
f.         Jabir bin Abdullah sebanyak 1.540 buah hadis[42]
Berikut adalah faktor-faktor tidak dibukukannya hadis pada masa sahabat :
a.         Sahabat sepenuhnya ingin memelihara amanah Rasul s.a.w.
Rasul s.a.w bersabda :

“ Aku tinggalkan dua pusaka pada kalian, jika kalian berpegang kepada keduanya, niscaya tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah (Alquran) dan sunnah Rasul-Nya”.(H.R. al-Hakim).[43]

b.        Sahabat berhati-hati dalam menerima dan meriwayatkan hadis.
Meskipun perhatian sahabat secara khusus terpusat terhadap pemeliharaan dan penyebaraan Alquran yang sudah membuahkan hasil dibukukannya Alquran pada masa Abu Bakar atas saran Umar, dan pada masa Utsman bin Affan, sehingga lahirlah mushaf Ustmani yang ditulis sebanyak lima buah. [44] Para sahabat tetap memperhatikan hadis namun mereka sangat membatasi diri dan berhati-hati dalam meriwayatkan hadis.
c.         Perbedaan pendapat ulama tentang hadis yang melarang menulis hadis.
Untuk pendapat yang dikemukan para ulama sudah dibahas secara rinci pada halaman 10 di dalam makalah ini. Namun, pemakalah ingin menambahkan bahwa Abu Sa’id al-Khudri (sahabat yang meriwayatkan larangan Rasul menulis hadis), dikatakan al-Khathib al Bagdadi, ternyata memiliki catatan-catatan hadis yang diterimanya dari Rasul s.a.w. [45]
Dengan demikian penulisan hadis sebenarnya telah dilakukan sahabat di masa Rasul, hanya mereka menyimpannya sebagai catatan pribadi. Dan disebabkan alasan yang logis, di antaranya zaman Rasul dan zaman sahabat tidak terpaut jauh, masih banyaknya penghafal Alquran maupun hadis, dan adanya kekhawatiran yang besar akan terjadi pencampur-adukan antara hadis dengan Alquran. Maka para sahabat membatasi diri dalam meriwayatkan hadis.






















SIMPULAN DAN SARAN

Rasul s.a.w adalah guru terbaik, sang motivator, dan penabur hikmah. Beliau memiliki cara agar pembelajaran tidak membosankan, agar para sahabat selalu tertarik untuk datang ke majlis pengajian, cara yang dipakai di antaranya tadarruj, markaz at-ta’lim, husn at-tarbiyah wa ta’lim, tanwi’ wa taghyir, tathbiq al-‘amali, mura’ah al-mustawiyat al-mukhtalifah, taisir wa’adam at-tasydid, dan ta’lim al-nisa.’
Cara sahabat dalam menerima hadis Rasul beragam, hal ini berdasarkan kondisi dari para sahabat itu sendiri, seperti kesibukan akan tugas-tugas mereka, tempat tinggal yang jauh, dan lain sebagainya, karena itu para sahabat dalam menerima hadis dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung, di antaranya   adalah dengan mengikuti langsung majelis-majelis pengajian yang dilakukan Rasul s.a.w, dan para sahabat yang tidak dapat mengikuti langsung majelis tersebut karena sebab tertentu akan mendapatkan informasi dari para sahabat lain yang hadir dalam majelis Rasul, sesuai dengan apa yang mereka dapatkan dari Rasul tanpa ada cela sedikitpun, baik dari segi lafaz maupun maknanya.
Mengenai penulisan hadis, Rasul pernah melarang para sahabat untuk menulis hadis pada awal keIslaman, hal ini terjadi disebabkan adanya kekhawatiran akan tercampurnya dengan Al-quran. Pada perkembangan selanjutnya Rasul memerintahkan penulisan hadis, karena jumlah umat Islam sudah semakin banyak dan mampu untuk membedakan antara hadis dan Alquran ditambah lagi adanya para sahabat yang memiliki kemampuan dalam hal membaca dan menulis.
Dan untuk menjamin kesinambungan hadis dapat ditinjau dari beberapa faktor, diantaranya; kekuatan hafalan yang dimiliki para sahabat dalam menerima hadis, kehati-hatian para sahabat dalam meriwayatkan hadis, kehati-hatian para sahabat dalam menerima hadis, pemahaman yang kuat terhadap firman Allah yang menjamin terpeliharanya Al-quran dan hadis.
Para sahabat dalam hal melakukan pemeliharaan terhadap hadis dengan melakukan upaya meminimalisasi periwayatan hadis, dan sampai pada pelarangan riwayat karena dikhawatirkan timbulnya kesalahfahaman terhadap riwayat tertentu, disamping berbagai faktor lainnya.
Ketika Islam sudah memiliki daerah kekuasaan yang luas, para sahabat menyebarkan ajaran Islam dengan mengajarkan Alquran dan hadis, seperti yang terjadi dibeberapa kota diantaranya; kota Madinah, banyak terdapat para sahabat yang mempunyai ilmu yang luas dan mendalam tentang hadis, kota Mekah, tempat yang strategis untuk saling bertukar hadis terutama pada musim haji karena para sahabat  dapat saling bertemu, dan kota-kota lain yang juga memiliki peranan dalam penyebaran hadis.
Setelah dipaparkan dengan cukup jelas tentang pokok bahasan yang berkaitan dengan hadis pada masa Rasul dan sahabat, serta hal-hal lain yang menjadi bahagian dari pembahasan pokok tersebut, dalam hal ini pemakalah menyarankan  pada kita semua agar tetap menjaga kemurnian nilai-nilai yang terkandung dalam Al-quran dan hadis, dengan tidak memiliki pandangan yang parsial terhadap makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran dan hadis, seperti halnya para sahabat yang memiliki apresiasi yang tinggi terhadap upaya pemeliharaAn dan menjaga eksistensi Al-quran dan hadis sebagai sumber hukum Islam, yang di dalamnya tidak ada keraguan sedikitpun padanya dari sejak  awal turunnya hingga sampai kepada kita sekarang ini. Kemudian pemakalah berharap agar kaum muslimin berhati-hati dalam menyampaikan hadis kepada orang lain, telitilah sebelum menyampaikannya dan gunakanlah hadis-hadis dari ulama yang sudah tidak diragukan lagi kesahihannya. Akhirnya semoga kita mampu memiliki semangat sebagai mana semangat yang dimiliki para sahabat dalam mengkaji ilmu dan menyampaikan ilmu kepada seluruh umat manusia dan agar Islam ini menjadi rahmatan lil ‘alamin.






DAFTAR PUSTAKA


Ismail, M. Syuhudi, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual : Telaah Ma’ani al-Hadits tentang Ajaran Islam yang Universitas, Temporal, dan Lokal, Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
Ismail, M. Syuhudi, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, cet 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Kementerian Urusan Agama Islam, Al-Qur’an dan Terjemahan, Arab Saudi: Mujamma’ Al-Malik Fahd Li Thiba’at al-Mushhaf, 1990.
Khathib, Ajaj, Ushul al-Hadits, terj. M.Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, cet 1, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998.
Khon,  Abdul Majid, Ulumul Hadis, cet. 4, Jakarta: Amzah, 2010.
Mundziri,  Zaki al-Din Abd Al-Azhim, Ringkasan Shahih Muslim, terj. Syinqithy Djamaluddin dan HM.Moctar Zoerni, cet 2, Bandung: Mizan, 2009.
Ramli Abdul Wahid dan Husnel Anwar Matondang,  Kamus Lengkap Ilmu Hadis, ed. Sulidar, Medan: Perdana Publishing, 2011.
Ranuwijaya,Utang,  Ilmu Hadis, cet. 3, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998.
Shiddieqy, T. M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits,  cet.5, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2010.
Sulaiman PL,  M.Noor,  Antologi Ilmu Hadits, cet.1, Jakarta: Gaung Persada Press, 2008.
Wahid,  Ramli Abdul, Studi Ilmu Hadis, Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2005.
Yuslem, Nawir,  Ulumul Hadis, Jakarta: PT.Mutiara Sumber Widya, 2001.
Zabidi, Imam, Ringkasan Shahih al-Bukhari, terj. Cecep Syamsul Hari dan Tholib Anis cet. 2, Bandung: Mizan, 2009.


[1] Ramli Abdul Wahid, Studi Ilmu Hadis (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2005) h. 53.
[2] Zaki al-Din Abd Al-Azhim Al-Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, terj. Syinqithy Djamaluddin dan HM.Moctar Zoerni, cet 2 (Bandung: Mizan, 2009), h. 898.
[3] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, cet. 3 (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), h.45.
[4] Ramli Abdul Wahid dan Husnel Anwar Matondang,  Kamus Lengkap Ilmu Hadis, ed. Sulidar             (Medan: Perdana Publishing, 2011), h. 233. Dinyatakan bahwa tadarruj menurut bahasa addalah berangsur-angsur. Metode tadarruj adalah metode menyampaikn sunnah dengan cara bertahap.
[5] Ajaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, terj. M.Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, cet 1 (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998) h, 49.
[6] Ramli Abdul Wahid, Studi Ilmu Hadis, h. 55
[7] Ibid, h. 56.
[8] Ibid.
[9] Ajaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 54
[10] Imam Az-Zabidi, Ringkasan Shahih al-Bukhari, terj. Cecep Syamsul Hari dan Tholib Anis cet. 2 (Bandung: Mizan, 2009), h.33.
[11] Ibid, h.43.
[12] M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual : Telaah Ma’ani al-Hadits tentang Ajaran Islam yang Universitas, Temporal, dan Lokal (Jakarta: Bulan Bintang, 1994) h, 5.
[13] T. M. Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits,  cet.5 (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2010), h. 10.
[14] M. Ajaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 57-59.
[15] M.Noor Sulaiman PL, Antologi Ilmu Hadits, h. 56
[16] Imam Az-Zabidi, Ringkasan Shahih al-Bukhari, h.33.
[17] Ibid, h. 54.
[18] T. M. Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits,  h. 26.
[19] M.Noor Sulaiman PL, Antologi Ilmu Hadits, cet.1 (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), h.15.
[20] Kementerian Urusan Agama Islam, Al-Qur’an dan Terjemahan (Arab Saudi: Mujamma’ Al-Malik Fahd Li Thiba’at al-Mushhaf, 1990), h.391.
[21] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penulisan Hadis Nabi, cet 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 11
[22] Zaki al-Din Abd Al-Azhim Al-Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, h. 1073.
[23] Nawir Yuslem, Ulumul Hadis (Jakarta: PT.Mutiara Sumber Widya, 2001), h. 98.
[24] Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, h. 100.
[25] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, cet. 4 (Jakarta: Amzah, 2010), h. 226, Mawquf menurut istilah adalah sesuatu yang disandarkan kepada sahabat, baik dari pekerjaan, perkataan, persetujuan, baik bersambung sanadnya maupun terputus.
[26] Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, h. 103-106, dan M. Ajaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 134-136.
[27] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, cet. 4 (Jakarta: Amzah, 2010), h. 46.
[28] Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, h. 106-108
[29] Ramli Abdul Wahid, Studi Ilmu Hadis, h. 69
[30] Ramli Abdul Wahid, Studi Ilmu Hadis, h. 72
[31] Ibid, h. 73
[32] Ibid, h. 77
[33] Ibid
[34] Ramli Abdul Wahid, Studi Ilmu Hadis, h.78
[35] Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, h.118.
[36] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, h.63-64.
[37] Ibid, h. 54.
[38] Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, h.118.
[39] Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, h.120.
[40] T. M. Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits,  h. 42.
[41] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, h. 48.
[42] Ibid, h. 49.
[43] Ajaj al-Khathib, Ushul al-Hadits,  h, 28.
[44] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, h. 56.
[45] Ibid, h. 61.

1 komentar:

  1. makasih yac atas info nya ini sangat berguna buat aku yang lagi ngerjain tugas studi hadist
    salam kenal yac sebelumnya....

    BalasHapus