Selasa, 11 Oktober 2011

APLIKASI TEORI PSIKOLOGI DAN BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN

APLIKASI TEORI PSIKOLOGI
DAN BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN
Anita, Ramadhan, Prabudi, Zuraidah
Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN-Sumatera Utara T.P 2010/2011

A.      Pendahuluan
1.        Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan kumpulan aktivitas dan saling berhubungan satu dengan lain, dimulai dengan memunculkan kesadaran dalam diri tentang kebutuhan yang ingin dicapai oleh seseorang, kemudian ia mempersiapkan dirinya untuk memenuhi kebutuhannya, langkah berikutnya adalah memahami dan menafsirkan situasi di mana seseorang harus bisa melihat keterkaitan kebutuhannya dengan lingkungan sekitar sehingga ia mampu mencari dan merancang alternatif untuk dapat memenuhi kebutuhan belajarnya secara maksimal, selanjutnya ia harus melakukan apa yang telah ia rumuskan untuk dirinya, dan tahap terakhir adalah hasil yang akan ia capai, jika seseorang bersungguh-sungguh dalam memenuhi kebutuhannya, maka hasil yang diperoleh akan maksimal, dan begitu juga sebaliknya, yaitu orang yang tidak sungguh akan mendapatkan hasil apa adanya.
Di dalam kumpulan aktivitas belajar, maka jelaslah bahwa belajar itu merupakan aktivitas yang direncanakan, dan dalam setiap aktivitas pasti ditemukan permasalahan-permasalahan yang perlu dipecahkan atau dicari solusi terbaik untuk penyelesaiannya. Berkaitan dengan hal ini, secara keilmuan kajian Psikologi yaitu Psikologi Pendidikan datang membantu dunia pendidikan untuk memahami semua individu yang terlibat dalam proses belajar, semua faktor yang mempengaruhinya, bagaimana cara membuat belajar menjadi asik dan menyenangkan, bukan hanya sekedar suasana transfer ilmu  dan pemberian angka sebagai nilai yang dijadikan satu-satunya standar keberhasilan. Dan hal – hal lain yang termasuk dalam kegiatan pendidikan terkhusus belajar.
Di  dalam Psikologi Pendidikan, ada beberapa pendekatan yang dilakukan untuk memahami individu, di antaranya behavior dan kogintif. Pendekatan behavior pendekatan yang menitik-beratkan pandangannya pada aspek tingkah laku lahiriah manusia dan hewan, pendekatan ini melahirkan beberapa teori – teori belajar. Sedangkan teori belajar kognitif merupakan teori yang lebih mengutamakan proses belajar daripada hasil belajar, yang meliputi beberapa pendekatan dan juga melahirkan beberapa teori-teori belajar.
Latar belakang di atas, merupakan dasar pemikiran bagi pemakalah untuk memaparkan secara jelas tentang apa-apa saja teori pendidikan dan teori-teori belajar, serta cara mengaplikasikannya teori pendidikan dan belajar dalam proses belajar mengajar. Dengan harapan, pemakalah ini dapat memberi gambaran tentang beberapa perbedaan defenisi, dan menumbuhkan motivasi untuk melakukan inovasi pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan secara maksimal.
2.        Rumusan Masalah :
Berdasarkan paparan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
a.    Apakah pengertian teori, psikologi, dan belajar dalam pendidikan ?
b.    Apakah perbedaan psikologi pendidikan dan psikologi belajar ?
c.    Bagaimana teori psikologi tentang belajar ?
d.   Apa saja teori-teori belajar ?
e.    Bagaimana cara mengaplikasikan teori-teori psikologi dan belajar tersebut di dalam proses pembelajaran ?
3.        Tujuan Penulisan
Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk :
a.       Mengetahui pengertian teori, psikologi, dan belajar dalam pendidikan.
b.      Mengetahui perbedaan antara psikologi pendidikan dan psikologi belajar.
c.       Mengetahui teori psikologi tentang belajar.
d.      Memahami teori-teori belajar.
e.       Mengetahui bagaimana cara mengaplikasikan teori psikologi dan belajar dalam pembelajaran.
4.        Manfaat Penulisan
Hasil penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk lebih memahami pengertian teori, psikologi, dan belajar, mengetahui perbedaan antara psikologi pendidikan dan psikologi belajar, mengetahui psikologi dan teori belajar  serta mengaplikasikannya dalam proses belajar mengajar sehingga meningkatkan hasil belajar, dalam upaya mencapai tujuan belajar, baik secara umum yang digariskan dalam pendidikan Nasional maupun tujuan khusus yang telah ditetapkan. 
B.       Aplikasi Teori Psikologi dan Belajar dalam Pembelajaran
1.        Pengertian Teori, Psikologi, dan Belajar dalam Pembelajaran.
a.         Pengertian Teori
Stanovich mengatakan : pengertian teori dalam ilmu pengetahuan adalah seperangkat konsep yang saling terkait yang digunakan untuk menjelaskan sekumpulan data dan untuk membuat prediksi tentang hasil dari suatu kegiatan eksperimen di masa depan.[1]
O’Connor mendefenisikan istilah teori adalah sebuah tema yang apik. Teori yang dimaksudkan hanya dianggap absah manakala kita tetapkan hasil-hasil eksperimental yang dibangun dengan baik dalam bidang psikologi atau sosiologi hingga sampai kepada praktek kependidikan.[2]
b.        Pengertian Psikologi
Psikologi berasal  dari istilah bahasa Yunani ; Psyche dan Logos. Psyche artinya jiwa, dan Logos artinya ilmu atau ilmu pengetahuan, Maka psikologi berarti ilmu pengetahuan tentang jiwa atau ilmu jiwa. [3]
Menurut pendapat para ahli :
1)   Plato dan Aristoteles : Psikologi adalah ilmu pengetahuan yag mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir. [4]

2)   Gustav Fechner : Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hubungan dan saling ketergantungan antara rohani dan jasmani manusia. [5]

3)   Jhon Broudus Watson : Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku nampak (lahiriah) dengan menggunakan metode observasi yang obyektif terhadap rangsang dan jawaban (respon).[6]

4)   Percival M. Symond : Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang pengalaman, kegiatan ruhaniyah, dan tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan sikap responsive serta sikap penyesuaian diri terhadap dunia sekitar. [7]

c.         Pengertian Belajar
Berikut adalah beberapa defenisi tentang belajar :
1)      Cronbach dalam bukunya Educational Psychologu menyatakan :               Learning is shown by a change in behavior as a result of experience.[8] Menurut Cronbach belajar yang paling baik adalah melalui pengalaman. Maksud melalui pengalaman adalah pada saat siswa melakukan proses belajar, mereka secara langsung menggunakan potensi panca inderanya untuk berinteraksi dengan obyek belajar.
2)      Chaplin dalam Dictionary Psikologi memberikan pengertian belajar dengan dua rumusan, yaitu :
Ø “… acquisition af any relatively permanent change in behavior as a result of practice dan experience
( Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman).
Ø proses of acquiring renponses as a result of special practice             ( Belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus). [9]

3)   Howard L. Kingsley menyatakan :
“ Learning is the process by which behavior  (in the broader sense) is originated or changed trought practice or training. “
( Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas)
ditimbulkan dan diubah melalui praktek dan latihan. [10]

Pendapat Chaplin dan Howard memiliki persamaan yaitu adanya perubahan  tingkah laku seseorang disebabkan oleh pengalaman melalui praktek dan latihan.
2.        Perbedaan Psikologi Pendidikan dan Psikologi Belajar
Psikologi Pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. [11] dan Psikologi belajar adalah sebuah disiplin ilmu psikologi yang berisi teori-teori psikologis mengenai belajar yakni teori-teori yang khusus mengupas cara individu belajar atau melakukan pembelajaran.[12]
Untuk lebih jelasnya, berikut ini pendapat ahli tentang psikologi pendidikan:
a.    Lester D. Crow dan Alice Crow mengatakan :
“ Educational psychology can be regarded as an applied science, in that it seek to explain learning according to scientifically determined principles and facts concerning human behavior ”
( Psikologi Pendidikan dapat dipandang sebagai ilmu pengetahuan praktis, yang berguna untuk menerangkan belajar sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan secara ilmiah dan fakta-fakta sekitar tingkah laku manusia).

b.    Carter V.Good mengatakan :
“ Educational Psychology : “ a study of natural of learning “
(Psikologi Pendidikan : suatu study tentang hakikat belajar).[13]
Pada dasarnya Psikologi Pendidikan dan Psikologi Belajar adalah dua hal yang saling terkait antara satu dengan yang lain. Namun, pemakalah sengaja mengangkat pembahasan ini untuk memberikan uraian tentang sedikit perbedaan antara keduanya, yaitu secara umum permasalahan pendidikan yang tidak hanya membicarakan tentang belajar dibahas pada Psikologi Pendidikan, dan secara khusus tentang cara belajar individu dalam melakukan pembelajaran dibahas pada Psikologi Belajar.
3.        Teori Psikologi tentang Belajar
Dalam belajar, ada beberapa pendekatan yang dilakukan oleh psikologi pendidikan, antara lain pendekatan behavioral dan pendekatan kognitif. Selanjutnya pemakalah akan menguraikan kedua pendekatan di atas.
a.         Pendekatan Behavioral
Pendekatan behavioral adalah pendekatan yang menitik-beratkan pandangannya pada aspek tingkah laku lahiriah manusia dan hewan. [14] dan perilaku atau behavior dari peserta didik dan pendidik merupakan masalah penting dalam psikologi pendidikan. [15] Tokoh behavior antara lain Eduard Lee Thordike yang mencetuskan teori “Trial and Error” dan J.B. Watson dengan teorinya “Stimulus-Respon” atau (S-R-Bon).
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. [16] Atau dengan kata lain jika seseorang dapat menunjukkan suatu perubahan terkhusus perubahan tingkah laku, maka dapat disimpulkan ia telah belajar. Misalnya, seorang guru mengajari siswanya membaca,  dalam proses pembelajaran guru dan siswa benar-benar dalam situasi belajar yang diinginkan, walaupun pada akhirnya hasil yang dicapai belum maksimal. Namun, jika terjadi perubahan terhadap siswa yang awalnya tidak bisa membaca menjadi membaca tetapi masih terbata-bata, maka perubahan inilah yang dimaksud dengan belajar.
Jika diuraikan contoh di atas, dengan kajian stimulus (rangsangan) dan respon (reaksi), maka dalam pernyataan situasi belajar yang diinginkan, ini bermaksud dalam proses belajar guru memberikan stimulus membaca dengan berbagai hal, seperti menuliskan kalimat dengan alat tulis yang berwarna-warna, atau membuat alat peraga dalam bentuk gambar dan bersama siswa menyimpulkan apa saja yang ada di dalam gambar, kemudian menuliskannya, dan membaca apa yang telah dituliskan. Jika siswa terlibat secara total dalam proses, ini berarti mereka memberikan respons atau tanggapan positif terhadap pembelajaran, dan pada akhirnya akan mendapatkan hasil dalam bentuk perubahan tingkah laku siswa.
Menurut teori ini, yang terpenting adalah masukan (input) yang berupa stimulus dan keluaran (output) yang berupa respons, dan apapun yang terjadi di antara stimulus dan respon, dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati. Alasan ini karena behavior  adalah teori yang mengutamakan pengukuran dan sesuatu yang dapat diukur dalam proses pembelajaran adalah  stimulus yang diberikan guru dan respons yang dihasilkan siswa dalam bentuk perubahan tingkah laku. Hal ini senada seperti yang dinyatakan oleh Jhon W.Santrock bahwa menurut behavioris, bahwa pemikiran, perasaan, dan motif
bukan subjek untuk ilmu perilaku sebab tidak dapat diobservasi secara langsung.[17]
Syaiful Akhyar Lubis, menuliskan teori-teori yang dapat dikelompokkan pada teori behavioristik, antara lain :
1)   Koneksionisme ( Thorndike )
2)   Classical conditioning (Pavlov, Watson)
3)   Systematic behavior theory (Hull, Spence)
4)   Contiguous conditioning (Guthrie)
5)   Descriptive behavior atau operant conditioning (Skinner).[18]
Lebih lanjut, Syaiful Akhyar Lubis menuliskan bahwa menurut Bigge, teori behavior memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1)   Mementingkan pengaruh lingkungan
2)   Mementingkan bagian-bagian
3)   Mementingkan peranan reaksi
4)   Mementingkan mekanisme terbentuknya hasil belajar
5)   Mementingkan sebab-sebab di waktu yang lampau
6)   Mementingkan pembentukan pembiasaan
7)   Dalam pemecahan problem memiliki cirri khas : trial and error. [19]
Tak ada gading yang tak retak, satu pribahasa yang menggambarkan bahwa tak ada yang sempurna, dalam hal ini tidak terkecuali teori behavior, karena itu di samping kelebihan tentulan ada kekurangannya, Ella Yulaelawati menguraikan kelebihan dan kelemahan teori behavior, sebagai berikut :
1)   Kelebihan behavirostik : peserta didik difokuskan pada tujuan yang jelas sehingga dapat menanggapi secara otomatis. Contoh : peserta didik mampu menjelaskan sifat-sifat air, maka diharapkan peserta didik mampu menjawab pertanyaan tentang sifat-sifat air.

2)   Kelemahan behavirostik : peserta didik dapat berada dalam situasi dimana rangsangan (stimulus) dari jawaban yang benar tidak tersedia. Contoh : peserta didik harus membuang sampah pada tempatnya, tetapi tidak tersedia tempat dan sistem pembuangan sampah. [20]

Dalam behavior ada beberapa pendekatan untuk pembelajaran, yaitu ;
1)        Pengkondisian Klasik : yaitu tipe pembelajaran dimana suatu organisasi
belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasi stimuli. Maksudnya stimulus netral (seperti melihat seseorang) diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna (seperti makanan) dan menimbulkan kapasitas untuk menimbulkan respons yang sama. [21] Pavlov memberikan contoh : seekor anjing saat melihat makanan maka ia akan mengeluarkan air liur, tetapi ketika ia mendengar bel, anjing tidak mengeluarkan air liur. Kemudian Pavlov mengkondisikan ketiga hal tersebut dalam sebuah proses, di mana stimulus  dan diberikan adalah makanan dan bel yaitu adanya percobaan pembiasaan ketika anjing mendengarkan suara bel, berarti waktu makan telah tiba sehingga anjing mengeluarkan air liur, akhirnya output yang dihasilkan oleh Pavlop adalah saat anjing mendengar bel maka ia mengeluarkan air liur karena teringat akan makanan.
2)        Pengkondisian Operan : sebentuk pembelajaran dimana konsekuesi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas     perilaku itu akan diulangi. Tokoh pendekatan ini adalah B.F. Skinner yang didasari pandangan E.L. Thorndike.[22] Adapun contohnya adalah E.L. Thorndike memperlajari kucing dan kotak. Ia memasukkan kucing yag lapar dalam kotak dan meletakkan ikan di luar kotak. E.L. Thorndike membuat tombol di dalam kotak agar kucing bisa keluar. Pada percobaan pertama, kucing melakukan beberapa gerakan untuk bisa keluar dari kotak dan tanpa sengaja menginjak tombol dan akhirnya ia bisa keluar,  Pada percobaan berikutnya kucing dimasukkan kembali dan gerakan awal mulai berkurang sampai ia bisa menginjak tombol. Percobaan ini berakhir sampai kucing ketika dimasukkan ke dalam kotak, dengan sekali pijakan ia menginjak tombol dan langsung keluar dari kotak.
b.        Pendekatan Kognitif
 Teori belajar kognitif merupakan teori yang lebih mengutamakan proses belajar daripada hasil belajar.  Para penganut aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons (dalam aliran behavioristik). Karena tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.[23]
Ada dua pendekatan dalam teori kognitif yaitu :
1)        Teori Kognitif Sosial Bandura : Teori ini menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan faktor perilaku, memainkan peranan penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif mungkin berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan; faktor sosial mungkin mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orangtuanya. [24] Dalam model ini, faktor person atau kognitis memegang peranan penting yang disebut juga dengan self-efficacy yaitu adanya keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan menghasilkan suatu hasil yang bernilai positif.
2)        Pembelajaran Observasional : Pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain. [25]
Teori-teori yang dapat dikelompokkan pada teori kognitif antara lain :

1)   Teori Gestalt (Koffks, Khlor, Wertheimer )
2)   Teori Medan (Lewin)
3)   Teoti Organistik (Wheeler).
4)   Teori Sains Gestalt
5)   Teori Humanistik (Masloew, Rogers) [26]

Dan ciri-cirinya adalah :
1)      Mementingkan  apa yang ada alam didik perserta  didk,
2)      Mementingkan keseluruhan
3)      Mementingkna peranan kognitif
4)      Mementingkan keseimbangan  dalam diri peserta didik.
5)      Mementingkan kondisi yang ada pada waktu kini
6)      Memnetingkan pembentukan struktur kognitif
7)      Dalam pemecahan problem, cirinya adalah insight. [27]

Adapun   kelebihan   dan   kelemahan  teori  kognitif,  Ella  Yulaelawati kembali menjelaskan yaitu :
1)   Kelebihan kognitif :  penerapan teori kognitif bertujuan untuk melatih peseta didik agar mampu mengerjakan tugas dengan cara yang sama dan konsisten. Contoh : cara belajar peserta didik berbeda-beda, mereka perlu secara rutin dilatih untuk mencapai cara umum yang tepat.

2)   Kelemahan kognitif : peserta didik belajar suatu cara melesaikan tugas, tetapi cara yang dipilih belum tentu yang terbaik. Contoh : peserta didik belajar cara menulis surat dengan cara yang sama, perlu diperhatikan. [28]

Pembahasan tentang teori psikologi tentang belajar menjelaskan kepada kita bahwa ilmu untuk mengetahui jiwa dalam hal ini erat kaitannya dengan belajar, baik dalam langkah awal, kemudian terjadinya proses, sampai kepada hasil belajar itu sendiri, sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan terkhusus dalam masalah belajar. Kebutuhan ini bukan hanya sekedar mencapai hasil maksimal dalam bentuk nilai-nilai, tetapi lebih dalam dari itu ilmu psikologi ini akan mengiringi langkah-langkah perubahan anak sesuai dengan karakter dan talenta yang dimilikinya.
Pada proses selanjutnya terjadi perkembangan sehingga melahirkan teori-teori belajar yang akan membantu dalam proses belajar dan perolehan hasil belajar yang maksimal.
4.        Teori-Teori Belajar
Sebelum pemakalah lebih jauh membahas apa saja teori – teori belajar, baik dari aliran behavior maupun kognitif, ada baiknya pemakalah sedikit menguraikan kisah yang diceritakan oleh  Jhon W. Santrock, kisahnya sebagai berikut :
“ Margaret Metzger, guru Bahasa Inggris di SMU Brooklin, memberikan nasihat kepada guru-guru yang menjadi bawahannya , ia mengatakan : Beri perhatian pada bagaimana cara belajar, bukan pada untuk apa belajar. Murid mungkin tak pernah tahu beberapa fakta tertentu, tetapi murid selalu butuh tahu bagaimana cara belajar. Ajari murid tentang cara membaca untuk mendapatkan pemahaman, bagaimana menyusun gagasan, bagaimana cara mengatasi mata pelajaran yang sulit, dan bagaimana cara menuangkan  pemikiran secara jellas melalui tulisan. “ [29]

Berdasarkan cerita di atas, maka yang paling baik dalam proses belajar adalah bagaimana cara belajar dan bukan untuk apa seseorang belajar. Jika dihubungkan kembali dengan pengertian belajar, yaitu “ Proses yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”[30] Maka semakin jelas bahwa perubahan itu terjadi berdasarkan pengalaman seseorang karena adanya interaksi dengan lingkungan sekitarnya, dan pengalaman ini merupakan sesuatu yang disadari, di mana kesadaran itu harus tumbuh sebagai bentuk kebutuhan individu, sehingga ia karena kebutuhannya ia akan mempersiapkan dirinya , memahami terhadap situasi,  dan akan memberikan respon positif dalam proses pembelajaran, yang akan berkaitan erat dengan hasil belajar. Cerita Margaret Metzger mengharapkan para guru benar-benar memperhitungkan semua hal yang terkait dengan proses belajar, artinya jika dalam proses aktivitas belajar berjalan dengan baik, menyenangkan semua orang yang berada di dalamnya, sudah tentu akan menghasilkan hasil yang baik pula.
Membicarakan proses belajar, maka sangat berhubungan  erat dengan teori
belajar. Dan untuk memahami teori demi teori , pembahasan selanjutnya akan menguraikan teori-teori belajar. Namun, pemakalah membatasi jumlah paparan tentang teori-teori belajar, untuk teori belajar behavior ada lima teori yang akan dijelaskan, sedangkan teori belajar kognitif hanya tiga teori saja. Berikut adalah penjelasan teori-teori yang telah disebutkan :
a.         Teori Belajar Behavior, antara lain adalah :
1)        Koneksionisme (Connectionism)
Teori ini dipelopori oleh Edward Lee Thorndike, menurut teori koneksionisme, belajar baik pada hewan maupun masusia pada dasarnya berlangsung  menurut prinsip-prinsip yang sama.
E.L. Thorndike mengatakan beberapa dasar terjadinya belajar yaitu : pembentukan asosiasi antara kesan panca indera dengan kecendrungan bertindak, atau disebut dengan trial and error learning.
Thorndike merumuskan tujuh aturan untuk pengajaran, sebagai berikut :
a)      Perhatikan situasi yang dihadapi murid.
b)      Pertimbangkan respons yang ingin anda kaitkan dengan situasi itu.
c)      Jalin ikatan: jangan berharap jalinan ini terbentuk secara ajaib.
d)     Jika hal-hal lain tak berubah, jangan jalin ikatan yang nanti harus diputuskan lagi.
e)      Jika hal-hal lain tak berubah, jangan menjalin dua-tiga ikatan apabila satu saja sudah cukup.
f)       Jika hal-hal lain tak berubah, bentuklah ikatan dengan cara membuat mereka mesti bertindak.
g)      Karenanya dukunglah situasi yang ditawarkan oleh kehidupan itu sendiri, dan dukunglah respons yang dituntut oleh kehidupan itu. [31]

2)        Pembiasaan Klasik (Classical conditioning)
Teori ini dikembangkan oleh ilmuan besar yang berasal dari Rusia, yaitu Ivan Pavlov, dan ia berhasil memperoleh hadiah Nobel pada tahun 1909. Teori ini pada dasarnya  adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara  mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. [32]
3)        Systematic behavior theory
Teori ini diperkenalkan oleh Clark L.Hull, di awal karirnya ia menaruh perhatian khusus terhadap tes bakat atau kecakapan, kemudian hypnosis, selanjutnya perhatian Hull tertuju pada studi proses belajar, dan inilah yang menghantarkannya menjadi orang yang terkenal. Teori belajar Hull adalah teori reduksi dorongan atau reduksi stimulus dorongan. [33]
Miller dan Dollard (1941) meringkaskan aplikasi teori Hull untuk pendidikan sebagai berikut :
Drive                  : Pembelajar harus menginginkan sesuatu
Cue                    : Pembelajar harus memerhatikan sesuatu
Response           : Pembelajar harus melakukan sesuatu
Reinforcement : Respon pembelajar harus membuatnya mendapatkan
                         sesuatu yang diinginkannya. [34]
4)        Pembiasaan Asosiasi Dekat (Contiguous conditioning)
Teori belajar pembiasaan asosiasi dekat adalah sebuah teori belajar yag mengasumsikan  terjadinya peristiwa belajar berdasarkan kedekatan hubungan
antara stimulus dengan respons yang relevan.
Teori ini dipelopori oleh Edwin Ray Guthrie, ia adalah professor psikologi di University of Washington. Guthrie menyarankan proses pendidikan dimulai dengan menyatakan tujuan, yakni menyatakan respons apa yang harus dibuat untuk suatu stimuli. Dia menyarankan lingkungan belajar yang akan memunculkan respons yang diinginkan bersaama dengan adanya stimuli yang akan dilekatkan padanya. [35]
5)        Pembiasaan Perilaku Respon (Operant conditioning)
Menurut Skinner, tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh stimulus, tidak ada faktor perantara lainnya. Rumusnya B (Behavior) = f (fungsi) dari S (Stimulus)      B = f (S). Tingkah laku atau respons (R) tertentu akan timbul sebagai reaksi atas stimulus tertentu (S). Respon yang dimaksud dengan Skinner adalah respon berkondisi yang dikenal dengan respon operant (tingkah laku operant). Sedangkan stimulusnya adalah stimulus operant. [36] Menurut Reynold, fokus teori Skinner adalah bagaimana menimbulkan, mengembangkan, dan memodifikasi tingkah laku.[37]
b.        Teori Belajar Kognitif, antara lain adalah :
1)        Teori Gestalt
Teori ini dipelopori oleh Koffks, Khlor, Wertheimer. Ciri utama dari aliran ini adalah mempelajari gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Berdasarkan hasil penelitian telah melahirkan beberapa hukum Gestalt , yaitu :
a)      Hukum Pragnanz : menyatakan bahwa organisasi psikis senantiasa cenderung untuk bergerak ke arah keadaan pragnanz yakni keadaan ‘penuh arti’.
b)      Hukum Kesamaan  : yaitu hal-hal yang sama cendrung untuk membentuk Gestalt.
c)      Hukum Keterdekatan : Hal-hal yang saling berdekatan cenderung untuk membentuk Gestalt.
d)     Hukum Ketertutupan : Hal-hal yang tertutup cenderung untuk membentuk Gestalt.
e)      Hukum Kontiunitas : Hal-hal yang kontiniu atau hal yang merupakan kontiunitas yang baik cenderung untuk membentuk Gestalt. [38]

2)        Teori Medan
Tokoh teori Medan adalah Kurt Lewin, teori ini merupakan teori yang dihasilkan oleh perkembangan khusus yang terjadi pada psikologi gestalt, ia menyatakan :
a.       Belajar adalah perubahan struktur kognitif.
b.      Peranan hadiah dan hukuman adalah merupakan dua sarana motivasi yang bemanfaat. Namun, dalam penggunaannya harus memerlukan pengawasan yang cermat.
c.       Masalah sukses dan gagal juga merupakan faktor motivasi yang penting. Pengalaman sukses berperan sebagai hadiah dan pengalamana gagal berperan sebagai hukuman. [39]

3)        Teori Humanistik
Teori Humanistik dipelopori oleh Combs, Maslow, dan Rogers. Berikut adalah pendapat dari ketiga tokoh di atas :
a)    Combs menyatakan apabila pendidik ingin memahami perilaku peserta didik, maka ia harus mencoba memahami dunia persepsi mereka.
b)   Maslow menyatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar tidak mung-
kin berkembang jika kebutuhan dasar peserta didik belum terpenuhi.
c)    Rogers mengemukakan 10 prinsip belajar yaitu :
·      Peserta didik memiliki kemampuan mandiri untuk belajar secara alami
·      Belajar adalah proses dan kegiatan yang signifikan dengan hasil yang dicapai.
·      Belajar merupakan perubahan persepsi.
·      Tugas-tugas belajar dipengaruhi faktor-faktor dari luar peserta didik.
·      Pengalaman belajar peserta didik berbeda satu sama lain.
·      Belajar yang bermakna diperoleh peserta didik dengan melakukannya secara langsung.
·      Belajar menjadikan peserta didik untuk bertanggung jawab.
·      Belajar akan berhasil jika dimulai dari diri sendiri.
·      Percaya pada diri sendiri adalah aawal dari keberhasilan.
·      Prinsip belajar adalah keterbukaan.

Berkaitan dengan humanistic, C.Asri Budiningsih dalam bukunya Belajar
dan Pembelajaran menjelaskan: 
“ Teori humanistik sering dikritik karena sukar diterapkan dalam konteks yang lebih praktis. Teori ini dianggap lebih baik dalam bidang pendidikan sehingga sukar kompleks, sehingga sukar menterjemahkannya kedalam langkah-langkah yang lebih konkret dan praktis. Namun, karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia, maka teori humanistik mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembejaran untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut. [40]

Dari penjelasan pembahasan teori behavior dan kognitif, Toeti Soekamto merumuskan tiga perbedaan [41] antara kedua teori tersebut, yaitu :
Aliran
Belajar
Proses Belajar
Hasil Belajar
Behaviorisme
Merupakan proses trial and error. Dan apakah terdapat unsur yang sama  antara masalah yang sekarang dihadapi dengan apa yag telah dijumpai sebelumnya
Suatu mekanisme yang periferik dan terletak jauh dari otak
Suatu kebiasaan  dan di-tekankan pada adanya pada adanya sekuen respon yang lancar.
Kogintif
Adanya pemahaman yang sekarang dihadapi dengan apa yang pernah dijumpai sebelumnya, atau menekan-kan adanya pemahaman dalam memecahkan masalah
proses  belajar terjadi secara internal dalam otak dan meliputi ingatan dan sebagainya
Sebagai suatu struktur kognitif dengan menekankan pada pengetahuan faktual

5.        Aplikasi Teori Psikologi dan Belajar dalam Pembelajaran
Menurut C.Asri Budiningsih, aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan peraktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. [42] Alasan ini disebabkan karena aliran behavior menekankan pada terbentuknya model hubungan stimulus dan respon. Sehingga sangat terkesan pelajar menjadi individu yang pasif.  yang berperilaku sesuai stimulus yang diberikan pengajar. Dan metode yang dipakai dalam teori ini hanya menggunakan metode pembiasaan atau drill, sehingga pelajar dapat dibentuk dengan situasi tertentu. Maka untuk mengaplikasikan teori ini dibutuhkan beberapa hal, antara lain menurut C.Asri Budiningsih adalah  tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia pembelajaran yang dirancang dan dilaksananakan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah objektif, pasti, tetap, tidak berubah.[43]
Teori behavioristik merupakan teori yang secara khusus bicara tentang perubahan tingkah laku yang nampak secara lahiriah, karena itu para pelajar diatur dengan penegakan disiplin yang ketat dan mengutamakan pembelajaran melalui buku teks yang merupakan pegangan wajib pelajar.
            Secara umum, langkah-langkah pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan dalam merancang pembelajaran. Langkah-langkah tersebut meliputi :
a.    Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran
b.    Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal ( entery behavior) siswa.
c.    Menentukan materi pelajaran.
d.   Memecah materi pelajaran menjadi bagian kecil, meliputi pokok bahasan, sub pokok bahasan, topik dan sebagainya.
e.    Menyajikan materi pelajaran
f.     Memberikan stimulus dapat berupa pertanyaan, baik lisan maupun tertulis, tes / kuis, latihan atau tugas-tugas.
g.    Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa.
h.    Memberikan penguatan / reinforcement ( mungkin penguatan positif) ataupun penguatan negatif) ataupun hukuman.
i.      Memberikan stimulus baru
j.      Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa. [44]

Berikut pemakalah memberikan contoh dengan mengaplikasikan teori belajar behavior dari teori belajar E.L. Thorndike.
a.              Tujuan pembelajaran      :
v  Siswa  dapat  mengucapkan  kosa  kata   dalam   bahasa   Arab   tentang
fasilitas umum.
v Siswa dapat menggunakan  kosa kata bahasa arab (fasilitas umum) dalam kalimat.
b.             Pengetahuan Awal :
v Siswa telah mengetahui Bahasa Arab tentang Isim Isyarat (kata tunjuk).
c.              Materi Pelajaran             :  Fasilitas umum  
d.             Sub pokok bahasan        :  -
e.              Penyajian materi            :  Praktek yang dilakukan oleh guru
f.              Memberikan stimulus    :  Pertanyaan yang diberikan oleh guru
g.             Mengamati respon siswa           :
v Siswa dapat menebak gerakan yang dilakukan oleh guru
h.             Memberikan penguatan : Guru memberikan reward berupa pujian
i.               Memberikan stimulus baru        :
v Guru memerintahkan siswa untuk melafalkan kosa kata   Bahasa Arab dan menggunakannya dalam bentuk kalimat
j.               Mengamati respon siswa           :
v Siswa dapat melafalkan kosa kata Bahasa Arab dan menggunakannya dalam bentuk kalimat.
Sedangkan teori belajar kognitif sangat berbeda dengan teori belajar behavioristik. Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajarnya. Model belajar kognitif menyatakan hubungan tentang adanya tingkah laku seseorang dengan  perpepsi pemahamannya terhadap situasi yang berkaitan erat dengan tujuan belajar yang diinginkan. Kembali C.Asri Budiningsih mengatakan bahwa belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak. Maka aliran ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.[45]

Adapun prinsip – prinsip yang dipakai dalam aplikasi teori kognitif adalah :
1.    Siswa bukan sebagai orang dewasa yang muda dalam proses . Mereka  mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.
2.    Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar, akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda kongkrit.
3.    Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan karenanya dengan mengaktifkan siswa, maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. [46]
4.    Untuk menarik minat dan menimgkatkan prestasi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki sipelajar.
5.    Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghapal. Agar bermakna, informsi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengeahuan yang dimiliki siswa. Tugas guru adalahmenunjukkan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa.
6.    Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi, persepsi, kemampuan  berpikir, pengetahuan awal dan sebagainya. [47]

Langkah-langkah pembelajaran menurut Piaget yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan :
a.    Menentukan tujuan pembelajaran
b.    Memilih materi pelajaran
c.    Menentukan topi yang dapat dipelajari siswa secara aktif
d.   Menentukan kegiatan belajar yang sesuai untuk topik-topik tersebut, misalnya penelitian, memecahkan masalah, diskusi dan sebagainya.
e.    Mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang kreatifitas dan cara berpikir siswa.
f.     Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa. [48]

Berikut pemakalah memberikan contoh dengan mengaplikasikan teori belajar kognitif  dari teori Gestalt.
a.              Tujuan pembelajaran      :
v Siswa dapat menjelaskan siklus hujan
v Siswa dapat menggambarkan siklus hujan
b.             Materi Pelajaran             : Siklus Hujan
c.              Topik pelajaran              : Proses terjadinya hujan
d.             Kegiatan pembelajaran  : Pengamatan pada gambar .
 





e.              Metode Pembelajaran    : Diskusi
f.              Penilaian akhir               :
v Siswa mampu menjelaskan proses terjadinya hujan dengan menggunakan gambar
C.      Penutup
1.        Simpulan
Teori dalam ilmu pengetahuan adalah seperangkat konsep yang saling terkait yang digunakan untuk menjelaskan sekumpulan data dan untuk membuat prediksi tentang hasil dari suatu kegiatan eksperimen di masa depan. Beranjak dari pengertian teori, para pakar pun membuat konsep-konsep yang dapat menjelaskan pengertian dan memberikan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu, terkhusus tentang ilmu psikologi dengan cabang keilmuannya yaitu Psikologi Pendidikan, yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan, maupun  Psikologi belajar  yang berisi teori-teori psikologis mengenai belajar yakni teori-teori yang khusus mengupas cara individu belajar atau melakukan pembelajaran.
Dalam Psikologi Pendidikan terdapat beberapa pendekatan yaitu pendekatan behavior, yang menekan pada terbentuknya model hubungan stimulus dan respon. Dan teori kognitif yaitu model belajar di mana tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.
Baik teori behavior maupun kognitif, keduanya memiliki kelebihan dan kelemahan. Namun, keberadaan kedua teori tersebut sangat membantu dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap tercapainya tujuan pendidikan secara maksimal, yang bukan hanya mengupas tentang pribadi orang-orang yang terlibat dalam pembelajaran, bahkan membahas faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar yang berada di luar diri individu itu sendiri.
2.        Implikasi
Adapun implikasi yang tepat menurut pemakalah adalah :
a.       Guru adalah gelar yang diberikan bagi orang-orang yang siap mendidik dan mengajarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain.
b.      Pengertian bahwa semua orang bisa menjadi guru belum tentu benar, karena seorang guru harus memiliki pengetahuan baik tentang ilmu pendidikan maupun ilmu psikologi, serta memahami teori-teori belajar yang akan berpengaruh pada penerapan dalam proses belajar mengajar dan hasil yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pendidikan.
c.       Guru mampu menerapkan teori-teori berdasarkan karakter, situasi, lingkungan, dan lain-lain, sehingga tercipta situasi belajar yang menyenangkan, melahirkan kreatifitas, dan penuh inovasi.
d.      Kepala sekolah memegang peranan penting untuk terlaksananya seluruh kegiatan pembelajaran di sekolah, dan menempatkan guru berdasarkan disiplin ilmu yang dimilikinya.
3.             Saran
a.       Untuk mencapai tujuan pendidikan yang maksimal maka diperlukan berbagai upaya dalam prosesnya, seperti perencanaan pembelajaran yang baik, pemilihan teori belajar yang tepat, persiapan diri yang matang, dan lain-lain.
b.      Karena pentingnya mendalami psikologi pendidikan dan teori-teori belajar, maka sudah seharusnya sebagai seorang guru terus memacu dan meningkat kemampuan diri dengan banyak membaca, kemudian menganalisa, dan melahirkan inovasi baru dalam dunia pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA


Abdullah , Abdurrahman Saleh, Teori-Teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an, Jakarta : Rineka Cipta, 1990.
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1991.
B.R. Hergenhahn dan Matthew W.Olson, Theories Of Learning, terj. Tri Wibowo B.S, cet 3, Jakarta : Kencana, 2010.
Budiningsih,C. Asri , Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005.
Djaali, Psikologi Pendidikan, cet 5, Jakarta : Bumi Aksara, 2011.
Hasibuan,Rusman,  Pendidikan Psikologi Islami, Al-Rasyidin (Ed), Bandung: Cita Pustaka Media Perintis, 2007.
Lubis,  Syaiful Akhyar (Ed), Dasar-Dasar Kependidikan, Bandung, Citapustaka Media Perintis, 2006.
Mustaqim, Psikologi Pendidikan, cet.4,  Ismail (Ed) , Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
Sanapiah Faisal dan Andi Mappiare, Dimensi-Dimensi Psikologi, Surabaya: Usaha Nasional.
Santrock, Jhon W., Psikologi Pedidikan, terj. Tri Wibowo, cet. 3, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001.
Soekamto,  Toeti, Perancangan dan Pengembangan Sistem Intruksional, Jakarta: Intermedia, 1993.
Sudjana,  Nana, Teori-Teori Belajar Untuk Pengajaran, Jakarta, Universitas Indonesia, 1991.
Suryabrata, Sumadi,  Psikologi Pendidikan, Jakarta, Rajawali Press, 1984.
Syah,Muhibbin,  Psikologi Belajar, cet.3, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001.
Walgito, Bimo,  Pengantar Psikologi Umum , Yogyakarta: Andi, 2004.
Wardani,A.K. , Psikologi Belajar, Jakarta: Universitas Terbuka, 2000.
Yulaelawati,Ella,  Kurikulum dan Pembelajaran: Filosofi, Teori, dan Aplikasi, Bandung: Pakar Raya, 2004.


[1] B.R. Hergenhahn, Matthew W.Olson, Theories Of Learning, terj. Tri Wibowo B.S, cet 3 (Jakarta : Kencana, 2010), h, 16.
[2] Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an (Jakarta : Rineka Cipta, 1990) h, 21.
[3] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum ( Yogyakarta: Andi, 2004) h, 1
[4] Sanapiah Faisal dan Andi Mappiare, Dimensi-Dimensi Psikologi (Surabaya: Usaha Nasional), h.34
[5] Ibid,
[6] Sanapiah Faisal dan Andi Mappiare, Dimensi-Dimensi Psikologi (Surabaya: Usaha Nasional), h.34
[7] Rusman Hasibuan, Pendidikan Psikologi Islami, Al-Rasyidin (Ed) (Bandung: Cita Pustaka Media Perintis, 2007), h.251.
[8] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta, Rajawali Press, 1984) h, 247.
[9] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, cet.3 (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001), h. 60-61.
[10] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1991) h,120
[11] Jhon W. Santrock, Psikologi Pedidikan, terj. Tri Wibowo, cet. 3 (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001), h. 4
[12] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, h. 2.
[13] Mustaqim, Psikologi Pendidikan, cet.4,  Ismail (Ed) ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008) h, 2
[14] Sanapiah Faisal dan Andi Mappiare, Dimensi-Dimensi Psikologi, h. 28.
[15] Djaali, Psikologi Pendidikan, cet 5 (Jakarta : Bumi Aksara, 2011), h. 78.
[16] C. Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005) h, 27.
[17] Jhon W. Santrock, Psikologi Pedidikan, h. 266
[18]  Syaiful Akhyar Lubis (Ed), Dasar-Dasar Kependidikan (Bandung, Citapustaka Media Perintis, 2006) h. 92 - 93
[19] Ibid, h. 93.
[20] Ella Yulaelawati, Kurikulum dan Pembelajaran: Filosofi, Teori, dan Aplikasi (Bandung: Pakar Raya, 2004), h. 55.
[21] Jhon W. Santrock, Psikologi Pedidikan, h. 268
[22] Ibid, h. 272.
[23] C. Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran ,  h.34
[24] Jhon W. Santrock, Psikologi Pedidikan, h. 285.
[25] Ibid, h. 286.
[26] Syaiful Akhyar Lubis (Ed), Dasar-Dasar Kependidikan, h. 93
[27] Syaiful Akhyar Lubis (Ed), Dasar-Dasar Kependidikan, h. 93
[28] Ella Yulaelawati, Kurikulum dan Pembelajaran: Filosofi, Teori, dan Aplikasi , h. 55.
[29] Jhon W. Santrock, Psikologi Pedidikan, h. 3
[30] A.K. Wardani, Psikologi Belajar ( Jakarta: Universitas Terbuka, 2000), h.23.
[31] B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson, Theories Of Learning, terj. Tri Wibowo B.S, cet. 3 (Jakarta : Kencana Media Group, 2010), h. 77.
[32] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, h. 85.
[33] B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson, Theories Of Learning,  h. 157.
[34] B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson, Theories Of Learning,h.157.
[35] Ibid, h. 245-246.
[36] Nana Sudjana, Teori-Teori Belajar Untuk Pengajaran (Jakarta, Universitas Indonesia, 1991), h.85
[37] Saiful Akhyar Lubis, Dasar-Dasar Kependidikan, h.97.
[38] Saiful Akhyar Lubis, Dasar-Dasar Kependidikan, h.97-98.
[39] Ibid, h. 98.
[40] C. Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran ,  h.76.
[41] Toeti Soekamto, Perancangan dan Pengembangan Sistem Intruksional (Jakarta: Intermedia, 1993), h. 84
[42] C. Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran ,  h.27.
[43] C. Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran ,  h.27.
[44] Ibid, h. 29.
[45] C. Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran ,  h.34.
[46] C. Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran ,  h.48.
[47] Ibid, h.49.
[48] Ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar